Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 14 - Surat Fāṭir (Pencipta)
فاطر
Ayat 14 / 45 •  Surat 35 / 114 •  Halaman 436 •  Quarter Hizb 44.25 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Makkiyah

اِنْ تَدْعُوْهُمْ لَا يَسْمَعُوْا دُعَاۤءَكُمْۚ وَلَوْ سَمِعُوْا مَا اسْتَجَابُوْا لَكُمْۗ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكْفُرُوْنَ بِشِرْكِكُمْۗ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيْرٍ ࣖ

In tad‘ūhum lā yasma‘ū du‘ā'akum, wa lau sami‘ū mastajābū lakum, wa yaumal-qiyāmati yakfurūna bisyirkikum, wa lā yunabbi'uka miṡlu khabīr(in).

Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu dan sekiranya mendengar, mereka tidak dapat memenuhi permintaanmu. Pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti (yang diberikan oleh Allah) Yang Maha Teliti.

Makna Surat Fatir Ayat 14
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Jika kamu menyeru, menyembah, dan meminta pertolongan mereka, yakni berhala atau sesembahan lain yang merupakan benda mati, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka yang kamu sembah itu makhluk hidup yang dapat mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu kecuali atas izin Allah. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari dan berlepas diri dari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan tentang segala sesuatu kepadamu seperti yang diberikan oleh Allah Yang Mahateliti dalam segala urusan.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa tuhan-tuhan yang mereka persekutukan dengan Allah tidak dapat mendengar apabila diseru oleh penyembahnya, karena hanya berupa benda mati yang tidak bernyawa. Andaipun dapat mendengar seruan penyembahnya, tuhan-tuhan itu tidak akan dapat berbuat apa-apa, serta tidak dapat melayani dan mengabulkan permintaan mereka di hari kiamat nanti. Tuhan-tuhan itu berlepas diri dari mereka, tidak mau bertanggung jawab, dan bahkan berkata, “Sebenarnya mereka itu tidaklah menyembah kami, tetapi menyembah hawa nafsu mereka, dan sesuatu yang dianggap baik menurut ajakan dan bujukan setan.” Allah berfirman:

وَاتَّخَ ذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لِّيَكُوْنُوْا لَهُمْ عِزًّا ۙ ٨١ كَلَّا ۗسَيَكْفُرُوْن َ بِعِبَادَتِهِم ْ وَيَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا ࣖ ٨٢ (مريم)

Dan mereka telah memilih tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sama sekali tidak! Kelak mereka (se-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka terhadapnya, dan akan menjadi musuh bagi mereka. (Maryam/19: 81-82)

Ayat 14 ini ditutup dengan ketegasan bahwa pemberitaan mengenai tuhan-tuhan yang menjadi sembahan kaum musyrikin adalah benar dan tidak mungkin keliru, karena informasi itu berasal dari Allah, Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu dengan pasti. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, baik di bumi maupun di langit. Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ ٥ (اٰل عمران)

Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit. (Āli ‘Imrān/3: 5)

Isi Kandungan Kosakata

1. Baḥrāni اَلْبَحْرَانِ (Fāṭir/35: 12)

Kata benda baḥr umumnya berarti laut atau samudra, tetapi dapat juga berarti sekumpulan air dalam jumlah yang besar, seperti air sungai atau danau yang tawar. Kata baḥrāni dalam ayat ini berarti ‘dua lautan’ berupa air asin dan air tawar. Air laut dan air sungai—danau, kolam, mata air dan air di dalam tanah pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan air laut, “dan satu sama lain saling berhubungan dengan adanya peredaran air yang mengalir terus-menerus, yang mengisap uap, membawanya ke tengah-tengah awan atau embun di lapisan udara, kemudian membawanya lagi dalam bentuk padat ke air atau salju ataupun hujan untuk kemudian bercampur dengan sungai dan saluran-saluran air lainnya, yang selanjutnya membawanya ke samudra kembali. Dalam Surah ar-Raḥmān/55: 19-20 disebutkan: maraja al-baḥraini yaltaqiyāni, bainahumā barzakhul lā yabgiyāni (Dia membiarkan dua kumpulan air yang mengalir bertemu. Di antara keduanya ada penyekat yang tak dapat mereka langgar). Beberapa mufasir memberikan penafsiran yang hampir sama. Dua air itu bertemu, bertetangga tanpa ada penyekat atau pembatas menurut penglihatan mata, padahal keduanya tak dapat bercampur, karena ada penyekat, dan masing-masing dengan wilayahnya, satu sama lain tidak mau bercampur dan saling memasuki. Menurut ar-Rāzī, kebanyakan mufassir berpendapat ayat ini sebagai perumpamaan orang kafir dan orang beriman yang tidak sama, seperti halnya air tawar dengan air asin. Penggalan pertama ayat ini ada hubungannya dengan penggalan berikutnya tentang ikan dan mutiara. Lihat juga Surah al-Furqān/25: 53, al-Kahf/18: 60.

2. Qiṭmīr قِطْمِيْر (Fāṭir/35: 12)

Qiṭmīr adalah kata benda yang berarti ‘kulit ari,’ kulit tipis yang membalut biji kurma. Perumpamaan dalam ayat ini memperlihatkan bahwa kekuatan apa pun, dalam pandangan Allah hanya seperti kulit ari, kulit tipis yang melapisi biji kurma dan sangat lemah, tak ada artinya dibandingkan dengan kekuatan Allah. Kata qiṭmīr hampir sama artinya dengan kata naqīr dalam Surah an-Nisā’/4: 53 dan 124, yaitu “alur kecil dalam biji kurma yang dari alur ini muncul tunas”, sesuatu yang tak ada gunanya atau sangat kecil dibandingkan dengan kekuasaan Allah. Dalam beberapa tafsir Al-Qur’an disebutkan bahwa nama anjing dalam Surah al-Kahf/18: 18 adalah qiṭmīr atau raqīm dalam tafsir yang lain. Dalam sebuah ungkapan dikatakan: lā yamliku qiṭmīran (dia tidak memiliki sepeser pun; tidak memiliki apa-apa).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto