Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
User Photo Profile
Al-Quran
Ayat 19 - Surat Qāf (Qaf)
قۤ
Ayat 19 / 45 •  Surat 50 / 114 •  Halaman 519 •  Quarter Hizb 52.5 •  Juz 26 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ

Wa jā'at sakratul-mauti bil-ḥaqq(i), żālika mā kunta minhu taḥīd(u).

(Seketika itu) datanglah sakratulmautdengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.

Makna Surat Qaf Ayat 19
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, yakni pasti dan tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Datangnya kematian itulah yang dahulu hendak kamu hindari.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah adanya keingkaran orang-orang kafir terhadap hari kebangkitan maka dalam ayat ini Allah menolak keingkaran dan kekafiran mereka dengan keterangan bahwa mereka akan meyakini kebenaran firman Allah itu, ketika mereka menghadapi sakaratulmaut dan pada hari Kiamat. Bila telah datang sakaratulmaut, terbukalah kenyataan yang sebenarnya dan timbullah keyakinan akan datangnya hari kebangkitan; sakaratulmaut benar-benar membuka tabir, yang selalu mereka hindari. Sekarang bagi mereka tidak ada tempat berlindung atau pelarian lagi. Dalam hadis yang sahih diterangkan bahwa Nabi Muhammad ketika menghadapi ajalnya bersabda, “Subḥānallah, Mahasuci Allah, sesungguhnya sakaratulmaut ini mengandung kedahsyatan.”

Isi Kandungan Kosakata

Ḥablul Warīd حَبْلُ الْوَرِيْد (Qāf/50: 16)

Al-Ḥablu adalah apa saja yang menyambungkan sesuatu dengan yang lainnya. Sedangkan al-warīd berarti urat leher atau pembuluh darah. Kata ḥablul warīd menggambarkan sesuatu yang sangat penting yang ada di tubuh manusia, yaitu pembuluh darah yang mungkin tidak bisa dirasakan keha-dirannya karena tidak terlihat oleh manusia itu sendiri meskipun pembuluh darah itu dekat sekali dengan manusia, bahkan menyatu dengan tubuhnya. Demikian juga dengan kedekatan Allah dan kehadiran-Nya melalui penge-tahuan-Nya di mana manusia tidak merasakannya. Kata ḥablul warīd di ayat ini merupakan suatu kiasan tentang pengetahuan Allah yang melingkupi manusia sampai pada hal-hal yang tersembunyi sekalipun seperti pembuluh darah. Pengetahuan Allah kepada makhluk-Nya meliputi segalanya yang ada pada manusia itu, bahkan sampai bisikan hatinya dan memori yang berada dalam ambang sadarnya. Quraish Shihab menyatakan bahwa kiasan di atas tidak dipahami bahwa Allah menyatu dengan diri manusia, tetapi kede-katan yang dimaksud adalah kedekatan ilmu-Nya. Ada juga ulama yang menyatakan bahwa kedekatan itu dalam bentuk kekuasaan-Nya. Kalau pembuluh darah manusia yang menyalurkan darah yang sangat penting ke seluruh tubuh manusia itu sangat besar perannya bagi kehidupan manusia, maka kuasa Allah jauh lebih besar dari pembuluh darah itu.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto