مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun ‘atīd(un).
Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).
Tidak ada suatu kata yang diucapkannya, yang mengandung keba-ikan maupun kejahatan, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat dengan sangat teliti.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa tugas yang dibebankan kepada kedua malaikat itu ialah bahwa tiada satu kata pun yang diucapkan seseorang kecuali di sampingnya malaikat yang mengawasi dan mencatat perbuatan-nya.
Al-Ḥasan al-Baṡrī dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Wahai anak-anak Adam, telah disiapkan untuk kamu sebuah daftar dan telah ditugasi malaikat untuk mencatat segala amalanmu, yang satu di sebelah kanan dan yang satu lagi di sebelah kiri. Adapun yang berada di sebelah kananmu ialah yang mencatat kebaikan dan yang satu lagi di kirimu mencatat kejahatan. Oleh karena itu, terserah kepadamu, apakah kamu mau memperkecil atau memperbesar amal atau perbuatan jahatmu, kamu diberi kebebasan dan bertanggung jawab terhadapnya, dan nanti setelah mati, daftar itu ditutup dan digantungkan pada lehermu, masuk bersama-sama engkau ke dalam kubur sampai kamu dibangkitkan pada hari Kiamat, dan ketika itulah Allah akan berfirman:
وَكُلَّ اِنْسَانٍ اَلْزَمْنٰهُ طٰۤىِٕرَهٗ فِيْ عُنُقِهٖۗ وَنُخْرِجُ لَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَّلْقٰىهُ مَنْشُوْرًا ١٣ اِقْرَأْ كِتٰبَكَۗ كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًاۗ ١٤
Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (al-Isrā'/17: 13-14)
Kemudian al-Ḥasan al-Baṡrī berkata, “Demi Allah, adil benar Tuhan yang menjadikan dirimu sebagai penghisab atas dirimu sendiri.” Abū Usamah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Malaikat yang mencatat kebajikan memimpin malaikat yang mencatat kejahatan. Jika manusia berbuat kebajikan, malaikat di sebelah kanan itu mencatat sepuluh kebajikan, tetapi jika manusia berbuat suatu kejahatan, ia berkata kepada yang di sebelah kiri, ‘Tunggu dulu tujuh jam, barangkali ia membaca tasbih memohon ampunan’.”
Hadis itu mengandung hikmah karena adanya malaikat di kanan dan kiri manusia mencatat perbuatannya. Allah tidak menciptakan manusia untuk diazab, akan tetapi untuk dididik dan dibersihkan. Setiap penderitaan itu bertujuan untuk meningkatkan daya tahan dan melatih kesabaran. Setiap benda biasanya lebih banyak mengandung kemanfaatan daripada kemu-daratan, dan Allah menciptakan manusia dengan tujuan-tujuan yang mulia bagi manusia sendiri. Kebaikan itu yang pokok, sedangkan kejahatan itu datang kemudian. Benda (materi) pokoknya mengandung kemanfaatan sedangkan mudaratnya datang kemudian. Unsur yang empat pun demikian: api, angin, air dan tanah pokoknya untuk kemanfaatan manusia. Kebakaran, angin topan, banjir, dan gempa bumi datangnya kemudian.
Perbuatan yang baik adalah yang pokok bagi manusia, dan kejahatan datang kemudian. Manusia diberi kebebasan dan pertanggungjawaban sepenuhnya dan oleh karena itu, siapa yang berbuat kejahatan janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.
Ḥablul Warīd حَبْلُ الْوَرِيْد (Qāf/50: 16)
Al-Ḥablu adalah apa saja yang menyambungkan sesuatu dengan yang lainnya. Sedangkan al-warīd berarti urat leher atau pembuluh darah. Kata ḥablul warīd menggambarkan sesuatu yang sangat penting yang ada di tubuh manusia, yaitu pembuluh darah yang mungkin tidak bisa dirasakan keha-dirannya karena tidak terlihat oleh manusia itu sendiri meskipun pembuluh darah itu dekat sekali dengan manusia, bahkan menyatu dengan tubuhnya. Demikian juga dengan kedekatan Allah dan kehadiran-Nya melalui penge-tahuan-Nya di mana manusia tidak merasakannya. Kata ḥablul warīd di ayat ini merupakan suatu kiasan tentang pengetahuan Allah yang melingkupi manusia sampai pada hal-hal yang tersembunyi sekalipun seperti pembuluh darah. Pengetahuan Allah kepada makhluk-Nya meliputi segalanya yang ada pada manusia itu, bahkan sampai bisikan hatinya dan memori yang berada dalam ambang sadarnya. Quraish Shihab menyatakan bahwa kiasan di atas tidak dipahami bahwa Allah menyatu dengan diri manusia, tetapi kede-katan yang dimaksud adalah kedekatan ilmu-Nya. Ada juga ulama yang menyatakan bahwa kedekatan itu dalam bentuk kekuasaan-Nya. Kalau pembuluh darah manusia yang menyalurkan darah yang sangat penting ke seluruh tubuh manusia itu sangat besar perannya bagi kehidupan manusia, maka kuasa Allah jauh lebih besar dari pembuluh darah itu.












































