وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ
Wal-qur'ānil-ḥakīm(i).
Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,
Lalu Allah berfirman, “Aku bersumpah demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, yakni pasti benarnya dan tidak ada sedikit pun yang tidak benar di dalamnya.
Allah bersumpah dengan Al-Qur’an yang penuh hikmah. Ada beberapa arti hikmah yang disarikan dari pendapat-pendapat ahli tafsir yakni: kata “hikmah” di sini muhkam, berarti yang telah pasti benarnya, dan tidak mungkin terdapat di dalamnya sesuatu yang batil (tidak benar) baik makna lafaẓ, tujuan, hikmah, kisah, hukumnya, dan lain-lain walaupun ditinjau dari segi apa pun. “Hakim” adalah suatu sifat yang dimiliki oleh orang yang berakal (cerdas). Demikian halnya Al-Qur’an, dengan hikmah yang dikandungnya memberi bekal kehidupan manusia untuk menyucikan hati mereka dan memberi rasa kepuasan rohani. Dengan kesucian hati dan kejernihan pikiran, akan terbuka rahasia-rahasia yang terkandung di alam ini. Al-Qur’an memberi bimbingan hidup yang penuh dengan kebijaksanaan, segala ajarannya sejalan dan harmonis dengan pikiran yang sehat dan kehendak nafsu yang terkendali, yakni jalan pikiran yang menuju ke arah kemaslahatan manusia.
Yā Sīn يٰس (Yāsīn/36: 1)
Kata yā sīn dalam istilah ilmu-ilmu Al-Qur’an disebut al-aḥruf al-muqaṭṭa‘ah yang berarti huruf-huruf yang dibaca secara terpeng-gal-penggal, bukan dalam kesatuan kata. Nama Surah Yāsīn diambil dari kata ini. Sebagian ulama tafsir ada yang menyerahkan pengertian huruf-huruf ini kepada Allah Ta‘ala, karena termasuk ayat-ayat mutasyabihat. Namun segolongan yang lain mencoba menakwilkannya. Menurut yang terakhir ini, huruf-huruf ini mengisyaratkan tantangan kepada bangsa Arab bahwa Al-Qur’an itu tersusun dari huruf-huruf hijaiyah sama seperti ucapan mereka. Meskipun Al-Qur’an dan perkataan mereka memiliki bahan dasar yang sama, namun mereka tidak bisa membuat sesuatu yang serupa mutunya dengan Al-Qur’an. Khusus berkenaan dengan kata yā sīn, sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa kata ini adalah kata yang digunakan Allah untuk bersumpah. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās, ‘Ikrimah, dan Mujahid. Ulama lain mengatakan bahwa yā sīn adalah salah satu nama Al-Qur’an. Pendapat ini diriwayatkan dari Qatādah.
















































