ثُمَّ نُنَجِّيْ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كَذٰلِكَ ۚحَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ ࣖ
Ṡumma nunajjī rusulanā wal-lażīna āmanū każālik(a), ḥaqqan ‘alainā nunjil-mu'minīn(a).
Kemudian, Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman. Demikianlah menjadi ketentuan Kami untuk menyelamatkan orang-orang mukmin.
Ketika ketetapan itu datang, Kami siksa orang-orang yang durhaka itu, kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah ketetapan Kami, yakni menjadi kewajiban Kami menyelamatkan dan memberikan kemenangan kepada orang yang beriman dan menghukum orang-orang yang durhaka.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa sesuai dengan Sunnah-Nya yang berlaku pada rasul dan kaumnya yang beriman, Allah akan menyelamatkan dan memelihara mereka dari kebinasaan. Itu adalah ketentuan Allah dan Allah tidak akan mengubah ketentuan-Nya itu.
Firman Allah:
سُنَّةَ مَنْ قَدْ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُّسُلِنَا وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيْلًا ࣖ ٧٧ (الاسراۤء)
(Yang demikian itu) merupakan ketetapan bagi para rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami. (al-Isrā’/17: 77)
Intaẓirū اِنْتَظِرُوْا (Yūnus/10: 102)
Kata dasarnya adalah naẓara yaitu melihat dengan mata kepala atau mata hati”. Intaẓara berarti “melihat-lihat” perkembangan, yaitu “menunggu”, “Tunggulah oleh kalian, saya pun menunggu.” Firman Allah dalam Yūnus/10: 102, memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikannya kepada umatnya yang ingkar, pada hal petunjuk-petunjuk tentang adanya Allah terdapat di langit dan di bumi ini. Mereka dipersilahkan menunggu, tetapi yang mereka tunggu hanyalah apa yang telah menimpa umat-umat terdahulu, yaitu kehancuran dan azab. Dan Nabi pun menunggu, yang ditunggunya adalah imbalan dari Allah yaitu surga.





































