فَقَالُوْا عَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْنَا ۚرَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Fa qālū ‘alallāhi tawakkalnā, rabbanā lā taj‘alnā fitnatal lil-qaumiẓ-ẓālimīn(a).
Mereka pun berkata, “Kepada Allahlah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim.
Setelah mendengar nasehat Nabi Musa lalu mereka berkata, “Kepada Allah-lah kami bertawakal, menyerahkan segala urusan kami. Mereka berdoa: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah, yakni siksaan dan gangguan bagi kaum yang zalim,
Orang-orang yang beriman lagi taat ketika mendengar seruan Musa, mereka segera menyambutnya dengan penuh ketaatan, bahkan mereka hanya bertawakal kepada Allah. Mereka menyadari bahwa kemenangan dan kebahagiaan yang dijanjikan Tuhan kepada orang-orang yang beriman tergantung kepada iman, amal, dan tawakal mereka. Kemudian sesudah tawakal, mereka berdoa kepada Allah agar memelihara mereka dari kejahatan orang-orang yang zalim serta melindungi mereka dari upaya orang-orang yang ingin memalingkan mereka dari agama.
Miṣr adalah nama dari semua kota yang mempunyai batas-batas tertentu karena kata al-miṣr artinya batas. Dalam ayat ini, miṣr menunjuk pada kota mana saja yang mempunyai batas-batas tertentu, namun menurut ulama tafsir kata miṣr di sini menunjuk pada kota Mesir dimana kerajaan Fir‘aun berada. Kata miṣr terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 4 kali, yaitu pada Surah al-Baqarah/2: 61, Yūnus/10: 87, Yūsuf/12: 99, dan az-Zukhruf/43: 51.













































