فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكَ تَتَمَارٰى
Fa bi'ayyi ālā'i rabbika tatamārā.
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan?
Kehancuran umat-umat pengingkar pada masa lalu merupakan peringatan dari Allah untuk generasi sekarang dan mendatang. Merupakan salah satu bentuk nikmat-Nya bagaimana umat pada masa kini dapat mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati dalam kehidupannya. Wahai manusia, jika umat-umat itu mendapat hukuman karena keingkaran mereka, maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan sehingga kamu mengingkarinya?
Allah menyatakan dalam bentuk pertanyaan kepada manusia tentang nikmat-Nya yang manakah, yang masih diragukan, dalam ayat-ayat berikut ini yang sama maksudnya.
يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ ٦
Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia. (al-Infiṭār/82: 6)
وَكَانَ الْاِنْسَانُ اَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah. (al-Kahf/18: 54)
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ ١٦
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (ar-Raḥmān/55: 16)
Pada hakikatnya musibah yang menimpa itu dapat membawa manusia kepada kesadaran bagi mereka yang memperhatikannya. Semua nikmat itu adalah bukti yang nyata atas ke-Esaan Allah.
1. Tatamārā تَتَمَارَى (an-Najm/53: 55)
Tatamārā berasal dari kata al-miryah yaitu “ragu-ragu”. Mirāu′ adalah “bertengkar” karena kedua pihak saling meragukan. Tatamārā berarti bertengkar dalam arti saling meragukan, dalam hal ini adalah nikmat Allah. Yang bertengkar karena saling meragukan itu adalah orang-orang kafir.
2. Sāmidūn سَامِدُوْن (an-Najm/53:61)
Sāmidūn kata dasarnya adalah sammada masdarnya as-samūdu artinya “lengah”, “lalai” seperti unta yang mengangkat kepalanya ke atas sambil berjalan sehingga ia tidak melihat jalan atau bahaya. Sāmidūn adalah orang-orang yang lalai dan lengah akan kematiannya atau kiamat, dan asyik bergembira ria tanpa memikirkan hari esok.












































