وَمَآ اَنْتَ بِهٰدِى الْعُمْيِ عَنْ ضَلٰلَتِهِمْۗ اِنْ تُسْمِعُ اِلَّا مَنْ يُّؤْمِنُ بِاٰيٰتِنَا فَهُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Wa mā anta bihādil-‘umyi ‘an ḍalālatihim, in tusmi‘u illā may yu'minu bi'āyātinā fahum muslimūn(a).
Engkau bukanlah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Engkau tidak dapat menjadikan (seorang pun) mendengar, kecuali orang yang beriman pada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri.
Keadaan mereka juga sama dengan orang yang buta, dan engkau tidak akan dapat memberi petunjuk jalan kebenaran kepada orang yang buta mata hatinya akibat dari kesesatannya itu. Engkau tidak dapat menjadikan seorang pun mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah secara mantap dan kukuh.
Pada ayat ini, Allah memperkuat pengertian ayat sebelumnya bahwa Nabi Muhammad sama sekali tidak dapat memalingkan orang-orang buta yang telah terkunci hatinya dari kesesatan. Mata hatinya tidak dapat diberi petunjuk kepada jalan yang lurus karena ada hijab atau dinding yang menutupi pandangannya, sehingga tidak dapat melihat kebenaran sama sekali. Nabi Muhammad tidak dapat menjadikan seseorang dapat mendengar seruannya dengan pendengaran yang positif, kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah, lalu berserah diri secara tulus ikhlas kepada-Nya.
1. Al-Ḥaqq al-Mubīn اَلْحَقُّ الْمُبِيْنُ (an-Naml/27: 79)
Kata al-ḥaqq adalah bentuk maṣdar dari ḥaqqa-yaḥuqqu-ḥaqqan atau ḥaqqa-yaḥiqqu-ḥaqqan yang arti aslinya adalah lawan dari batil, yaitu benar.
Al-Iṣfāhanī menyebutkan bahwa makna dari kata al-ḥaqq ialah sesuai. Pengarang kitab Maqāyis al-Lugah menyebutkan bahwa makna dari al-ḥaqq adalah kekukuhan sesuatu dan kebenarannya. Ketiga makna ini mempunyai hubungan yang erat. Sebab, suatu berita misalnya, dapat dinyatakan benar apabila sesuai dengan kenyataan atau kejadian yang sesungguhnya. Kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan disebut sesuatu yang benar, dan setelah jelas kebenarannya maka kukuhlah berita tersebut.
Kata al-mubīn adalah isim fā’il dari abāna-yubīnu-ibānatan, yang berarti yang nyata, yang terang. Dengan demikian, maka makna dari al-ḥaqq al-mubīn adalah kebenaran yang nyata.
2. Al-Qaul اَلْقَوْل (an-Naml/27: 82)
Kata al-qaul adalah maṣdar dari qāla-yaqūlu-qaulan yang berarti perkataan. Banyak ulama mengartikan kata al-qaul dalam ayat 82 Surah an-Naml adalah hari Kiamat. Penamaan kiamat sebagai qaul yang secara harfiah berarti perkataan/ucapan adalah sebagai isyarat bahwa ketika itu jika ada yang berbicara, maka bahan pembicaraan dan ucapannya hanya persoalan kiamat.
















































