
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Sepasang mata elang
Mengintai dari langit
Membakar-bakar dan buka kericuhan
Entah apa yang dimaui
Huru-hara pun semakin tak terkendali
Merentak di sana-sini
Semestinya kita
Picingkan mata dan telinga
Dan bahu-membahu mengusirnya
Makna lirik lagu ini menggambarkan situasi di mana adanya ancaman atau gangguan, simbolisa... tampilkan semua
Sepasang tangan kasar
Menjulur dari bumi
Menghembus-hembuskan suara memuakkan
Memfitnah di kanan-kiri
Huru-hara pun semakin tak terkendali
Merentak di sana-sini
Semestinya kita
Picingkan mata dan telinga
Dan bahu-membahu mengusirnya
Makna lirik lagu ini mengisyaratkan tentang adanya ancaman atau kebisingan yang disebabkan... tampilkan semua
Dengarlah suara gaib dalam dan berwibawa
Menyirami sekujur kekacauan
Meniupkan kesegaran
Huru-hara pun seketika terhenti
Kedamaian mulai semi
Seharusnya kita dengar apa yang dikatakan
Barangkali dialah yang benar
Makna lirik lagu ini menggambarkan kehadiran suara yang kuat dan berpengaruh, yang diangga... tampilkan semua
Lagu "Huru - Hara" yang ditulis dan dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade merupakan karya yang kaya akan makna dan pesan. Melalui liriknya, penyanyi berhasil mengungkapkan berbagai realitas yang terjadi dalam masyarakat, terutama yang berkaitan dengan konflik dan kekacauan. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendetail tema-tema yang terkandung dalam lirik tersebut.
Konflik dan Ketidakpastian
Diawali dengan deskripsi "Sepasang mata elang" yang mengintai dari langit, terdapat nuansa pengawasan dan kekhawatiran. Mata elang yang tajam menggambarkan suatu iming-iming yang bisa berakibat buruk bagi manusia. Frasa ini mencatatkan adanya ancaman yang terus mengintai, yang menggambarkan ketidakpastian yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Kekacauan yang Semakin Tak Terkendali
Salah satu pengulangan dalam lirik adalah pernyataan bahwa "Huru-hara pun semakin tak terkendali". Ini menandakan sebuah kondisi di mana kekacauan sedang memuncak. Masyarakat diminta untuk "picingkan mata dan telinga"—saran untuk tetap waspada dan memperhatikan keadaan sekitar. Dalam konteks ini, kita diajak untuk menyadari realita yang ada dan bersikap proaktif terhadap perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Peran Masyarakat dalam Menghadapi Kekacauan
Selain itu, lirik ini juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi huru-hara. "Bahu-membahu mengusirnya" menggambarkan pentingnya solidaritas dalam mengatasi masalah. Pesan ini menunjukkan bahwa untuk mengatasi konflik dan kekacauan, dibutuhkan kerja sama dari semua elemen masyarakat.
Suara Gaib dan Harapan Akan Kedamaian
Sebagai tanda harapan, lirik juga memperkenalkan "suara gaib dalam dan berwibawa" yang berfungsi untuk membawa kedamaian. Suara ini dapat diartikan sebagai suara hati, keadilan, atau mungkin suara dari mereka yang lebih bijaksana. Ketika huru-hara terhenti, "kedamaian mulai semi" menggambarkan sebuah perubahan yang positif dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Panggilan untuk Merenung
Di akhir lirik, terdapat pengingat untuk mendengar dan merenungkan apa yang dikatakan oleh suara tersebut. "Seharusnya kita dengar apa yang dikatakan, barangkali dialah yang benar" menunjukkan betapa pentingnya untuk berpikir dan mendengarkan suara kebenaran, alih-alih terjebak dalam kebisingan dan kekacauan yang ada.
Secara keseluruhan, "Huru - Hara" oleh Ebiet G. Ade menggambarkan suatu perjalanan dari kekacauan menuju kedamaian, dengan menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan, kolaborasi, dan kemampuan untuk mendengar. Lagu ini bukan hanya sekadar karya seni, tetapi juga menjadi refleksi atas kondisi sosial dan perlunya merenungkan kembali perjalanan hidup kita di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.









































