اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗاَنّٰى يُصْرَفُوْنَۚ
Alam tara ilal-lażīna yujādilūna fī āyātillāh(i), annā yuṣrafūn(a).
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang (selalu) membantah ayat-ayat Allah, bagaimana mereka dapat dipalingkan?
Setelah disimpulkan pada ayat-ayat yang lalu bahwa Allah-lah pe-nguasa alam semesta ini, dan yang berkuasa menghidupkan dan mematikan, maka ayat-ayat berikut kembali menghadapkan perhatian terhadap orang-orang yang mendebat kebenaran wahyu terutama tentang akibat yang akan mereka terima karena perbuatan tersebut. “Apakah kamu, wahai Nabi Muhammad, tidak memperhatikan tentang orang-orang yang selalu membantah dengan batil terhadap semua bukti kebenaran ayat-ayat Allah? Bagaimana jalan pikiran mereka sehingga mereka dapat dipalingkan dari bukti-bukti kebenaran yang sangat jelas dari wahyu itu?”
Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad, apakah ia tidak memerhatikan orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah yang menerangkan dan membuktikan keesaan-Nya dan adanya hari kebangkitan. Orang-orang kafir itu membantah tanpa mengemukakan dalil-dalil yang kuat atau yang dapat diterima akal dan pikiran yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa kekafiran dan keingkaran mereka itu tidak beralasan sedikit pun. Jika ada alasan yang mereka kemukakan, maka alasan itu semata-mata hanya karena ingin mengelakkan diri dari seruan Muhammad.
Sikap mereka yang demikian itu adalah sikap yang aneh dan tidak benar. Jika mereka ingin mencari kebenaran dan ingin mengikuti kepercayaan yang benar, amat banyak dalil-dalil yang dapat mereka pelajari dan perhatikan untuk mencapai keinginan mereka itu.
1. Yusḥabūna يُسْحَبُوْنَ (Gāfir/40: 71)
Kata yusḥabān adalah fi‘il muḍāri‘ majhūl, dari saḥaba–yasḥabu–saḥ ban, yang artinya “mereka diseret.” Hal ini menggambarkan keadaan siksa yang menyedihkan di alam akhirat, yang akan dialami oleh mereka yang mendustakan Al-Qur’an dan mendustakan apa-apa yang dibawa para utusan Allah sebelum Nabi Muhammad. Pada saat belenggu dan rantai yang penuh dengan api neraka telah terikat pada leher mereka, mereka diseret dengan sadis dan dilemparkan ke dalam neraka. Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.
2. Yusjarūna يُسْجَرُوْنَ (Gāfir/40: 72)
Kata yusjarūna adalah fi‘il muḍāri‘majhūl yaitu kata kerja untuk waktu sekarang dan yang akan datang dalam bentuk pasif. Artinya mereka akan dibakar. Berasal dari fi‘il sajara-yasjuru-sajran (ﺴﺠﺮﺍ ﻳﺴﺠﺮ ﺴﺠﺮ) artinya menyalakan, membakar, atau menuangkan. Pada ayat 71-72 Surah Gāfir ini Allah berfirman, “Yusḥabūna fi al-ḥamīm ṡumma fi an-nāri yusjarūn,”. Artinya: mereka akan diseret ke dalam air yang sangat panas kemudian dibakar dalam api neraka. Ini merupakan bagian dari azab bagi orang-orang yang menentang ayat-ayat Allah dan rasul-Nya, karena mereka lebih percaya dan asyik dengan berhala-berhala mereka ketika hidup di dunia. Sebetulnya orang-orang kafir Mekah mengetahui adanya Allah yang mencipta alam dan manusia ini, tetapi mereka sulit membayangkan Allah yang sangat tinggi, lalu mereka menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka mereka menjadi musyrik yang menyekutukan Allah. Azab dan hukuman Allah sangat keras terhadap orang-orang yang menyekutukan-Nya.

















































