فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ
Fahal ‘asaitum in tawallaitum an tufsidū fil-arḍi wa tuqaṭṭi‘ū arḥāmakum.
Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu?
Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, atau jika kamu berpaling dari iman, kamu akan berbuat kerusakan di bumi, menumpahkan darah, dan memutuskan hubungan kekeluargaan sehingga kamu saling membenci satu sama lain? Ayat ini mencela kaum munafik yang selalu mengejar ke-senangan hidup di dunia. Seandainya orang munafik berkuasa pastilah mereka berbuat aniaya dengan menumpahkan darah, merampas harta dan memutuskan hubungan silaturahmi.
Ayat ini mencela sikap kaum munafik yang selalu mengejar kesenangan hidup di dunia, dengan mengatakan, “Hai orang munafik, karena kamu selalu mengejar kesenangan hidup di dunia dan kemewahannya, maka seandainya kamu berkuasa, pastilah kamu mempunyai sifat-sifat ingin mementingkan diri sendiri dengan memperlihatkan kekuasaan kepada rakyat jelata, suka mengambil hak orang lain, dan memutuskan hubungan silaturrahim yang sangat dianjurkan untuk disambung.
al-Magsyiyyu الْمَغْشِيُّ (Muḥammad/47: 20)
Kata al-magsyiyyu adalah isim maf‘ūl (kata benda objek) dari kata gasyiya-tagsya-gasywah yang berarti menutupi, sebagaimana dalam firman Allah, “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (al-Lail/92: 1) Kata gisyāwah berarti penutup yang mengunci hati, sebagaimana dalam firman Allah, “Dan penglihatan mereka ditutup.” (al-Baqarah/2: 7). Kiamat disebut al-gāsyiyah karena huru-haranya menutupi seluruh makhluk. Secara keseluruhan, penggunaan kata gasyiya dan semua derivasinya berkisar pada ‘menutupi’. Akan tetapi, bila kata gasyiya ditransitifkan dengan bantuan kata ‘alā, maka ia berarti ‘pingsan’, seperti penggunaan kata gasyiya pada ayat yang sedang ditafsirkan ini, dan di dalam firman Allah Ta‘ala, “Mereka kikir terhadapmu apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati…” (al-Aḥzāb/33: 19)












































