وَاُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَ غَيْرَ بَعِيْدٍ
Wa uzlifatil-jannatu lil-muttaqīna gaira ba‘īd(in).
Adapun surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka).
Ayat-ayat berikut ini menjelaskan keadaan orang yang bertakwa dan kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada mereka. Sedangkan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, yang mantap ketakwaannya, pada tempat yang tidak jauh dari mereka. Mereka dapat melihat kenikmatan dan kelezatan yang disediakan untuk mereka.
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang bertakwa berada di depan surga. Mereka melihat segala macam kenikmatan dan kegembiraan yang telah dijanjikan Allah kepada mereka dalam Al-Qur’an, segala macam kenikmatan dan kelezatan tidak ada habisnya, bahkan kekal selama-lamanya. Semua itu sebagai penghargaan kepada orang-orang yang bertakwa.
1. Wa Uzlifat وَأُزْلِفَتْ (Qāf/50: 31)
Kata uzlifat adalah fi‘il māḍī (kata kerja lampau) yang mengikuti pola majhūl (pasif). Pola aktifnya adalah azlafa-yuzlifu. Kata azlafa terbentuk dari kata zalafa yang berarti maju dan mendekat. Lalu kata ini ditambah hamzah qaṭ‘i di awal menjadi azlafa. Penambahan ini mengubahnya dari intransitif menjadi transitif (membutuhkan objek), dan artinya adalah mendekatkan. Darinya diambil kata zulfah yang berarti kedudukan. Darinya diambil kata zulafan yang berarti bagian permulaan, sebagaimana dalam firman Allah, “Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam.” (Hūd/11: 114) Maksud kata uzlifat di sini adalah didekatkan.
2. Bi-qalbin Munībin بِقَلْبٍ مُنِيْبٍ (Qāf/50: 33)
Kata qalb berarti hati, sedangkan kata munīb adalah isim fā‘il dari kata anāba-yunību-inābatan. Kata dasarnya adalah nāba-yanūbu-nauban yang memiliki beberapa akar makna, yaitu turun atau terjadi, kembali, dan menggantikan. Kata naibah berarti berbagai kebutuhan dan kejadian yang terjadi pada manusia. Hujan yang lebat disebut al-munīb. Lebah juga disebut an-nūbu karena ia selalu kembali ke sarangnya. Kalimat nābanī fulān berarti fulan menggantikan kedudukanku. Dan yang menjadi akar makna dari kata munīb di sini adalah kembali. Di dalam Al-Qur’an kata anāba dengan berbagai bentuk derivasinya disebut sebanyak delapan belas kali, dan keseluruhannya bermakna ‘kembali kepada Allah dengan bertobat’.














































