۞ قَالَ قَرِيْنُهٗ رَبَّنَا مَآ اَطْغَيْتُهٗ وَلٰكِنْ كَانَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ
Qāla qarīnuhū rabbanā mā aṭgaituhū wa lākin kāna fī ḍalālim ba‘īd(in).
(Setan) yang menyertainya berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh.”
Setan yang menyertainya berkata, “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh, sehingga aku mengajaknya berbuat jahat dan dia menerima ajakanku dengan kemauannya.”
Setan yang menyertai orang kafir menolak tuduhan bahwa dialah yang menyesatkan dari jalan yang benar dengan mengatakan, “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, akan tetapi dia sendiri yang selalu berada dalam kesesatan yang jauh sekali.”
1. ‘Atīd عَتِيْدٌ (Qāf/50: 23)
Berasal dari kata ‘itad, yang bermakna menyimpan atau menyediakan sesuatu sebelum sesuatu itu dibutuhkan sebagai persiapan. Al-‘atīd bermak-na menyiapkan atau yang disiapkan seperti pada ayat ini. Ada ulama yang berpendapat bahwa Raqib dan ‘Atid adalah pengawas yang selalu hadir bagi manusia. Ada juga ulama yang memahami ‘Atid sebagai nama malaikat yang mencatat perbuatan buruk manusia, sedangkan Raqib adalah malaikat yang mencatat perbuatan baik manusia. Kedua makna ini bisa digabung sehingga berfungsi sebagai dua malaikat pengawas yang selalu hadir bersama manusia.
2. Al-‘Anīd العَنِيْد (Qāf/50: 24)
Al-‘Anīd artinya orang yang mengagumi dirinya atau sombong dan orang yang selalu menentang kebenaran dan keras kepala. Sifat orang kafir yang di-gambarkan sebagai keras kepala merupakan dampak buruk dari kekafiran. Penolakan terhadap kebenaran yang ada di hadapannya menjadikan mereka bersifat keras kepala. Sifat keras kepala menyebabkan ia enggan me-lakukan kebajikan, sehingga akhirnya ia menjadi orang yang aniaya terha-dap orang lain dengan mencegah mereka melakukan kebajikan dan aniaya terhadap dirinya sendiri dengan kekafirannya kepada Allah dan rasul-Nya.
3. Murīb مُرِيْبٍ (Qāf/50: 25)
Asal katanya adalah ar-raib, artinya menyangka sesuatu dengan sesuatu hal yang lain atau meragukan sesuatu. Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang kafir yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya (Qāf/50: 24) bahwa mereka bersikap keras kepala dan aniaya terhadap orang lain dengan cara menghalangi manusia menerima kebenaran dan berbuat kebajikan dengan jalan menanamkan keraguan pada hati mereka. Orang-orang yang bersikap seperti ini akan diazab Allah di akhirat dan dimasukkan ke api neraka.










































